40 ORANG INDONESIA MILIKI KEKAYAAN Rp 200 TRILIUN

Posted: November 28, 2012 in tulisan Heri yang lainnya,,click this

Sebanyak 40 orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan bersih sedikitnya US$ 22,275 miliar atau Rp 200 triliun lebih. Sukanto Tanoto, raja pulp and paper pemilik RGM International, menduduki peringkat pertama dengan kekayaan US$ 2,8 miliar.

Jajaran 40 orang terkaya didominasi pengusaha yang bergerak di sektor rokok, pertambangan, konsumsi, properti, dan agribisnis. Dua pejabat Indonesia masuk dalam daftar ‘top 40’, yakni Wapres Jusuf Kalla yang menduduki urutan ke-36 dengan kekayaan US$ 105 juta serta Menko Kesra Aburizal Bakrie pada peringkat keenam dengan kekayaan US$ 1,2 miliar.

Daftar 40 orang terkaya tersebut diungkap majalah Forbes Asia edisi 18 September 2006, yang diluncurkan pada konferensi “Forbes Global CEO” di Singapura, Selasa (5/9).

Kekayaan 40 orang Indonesia tersebut mendekati jumlah kekayaan 40 orang terkaya Singapura senilai US$ 28 miliar.

Di jajaran lima besar, tercatat tiga nama pengusaha rokok yakni Putera Sampoerna (perusahaannya, HM Sampoerna, telah dijual ke Philip Morris) di urutan kedua, Rachman Halim (Gudang Garam) peringkat keempat, serta Budi Hartono (Djarum) di urutan kelima.

Nama-nama yang merajai sektor barang konsumsi juga masuk ‘top 40’, seperti Eddy William Katuari yang menakhodai Wings Group, Liem Sioe Liong melalui bendera Indofood, serta Soegiharto Sosrodjojoyang terkenal dengan minuman paling laris teh Botol Sosro. Sedangkan raja real estate Indonesia, Trihatma Haliman, diukur keberhasilannya melalui penjualan sejumlah gedung apartemen yang bernilai US$ 900 juta di berbagai kawasan di Jakarta.

Disimpan di Luar Negeri

Menurut Daniel Truchi, CEO SG Private Banking (Asia Pacific), keluarga kaya Indonesia kini mengubah cara mengelola kekayaan, yang semula dikendalikan satu orang menjadi lebih terstruktur secara legal. Hal ini untuk memastikan bahwa generasi penerusnya bisa menikmati kekayaan tersebut.

Banyak keluarga kaya Indonesia yang memberi perhatian lebih dalam mengelola kekayaan, baik menyangkut jangka waktu dan tipe instrumen investasi, maupun struktur investasinya. “Klien kami kini menggunakan produk-produk keuangan high-tech ketika berinvestasi. Kami mampu menciptakan produk yang amat berbeda dibanding dua-tiga tahun lalu,” kata dia kepada Investor Daily.

Dia menambahkan, mayoritas orang kaya Indonesia lebih suka menempatkan dananya di luar negeri. “Hal itu terjadi karena lemahnya aturan dan kepastian hukum di Indonesia,” ungkap Truchi. Itu berbeda dengan orang kaya Cina dan India yang cenderung menginvestasikan kekayaannya di dalam negeri.

Truchi menambahkan, kaum kaya kebanyakan bergerak di sektor energi, infrastruktur, dan distribusi yang merupakan penggerak pertumbuhan ekonomi.

Senada dengan Truchi, analis pasar modal Goei Siaw Hong, ekonom Roy Sembel, dan pakar pemasaran Rhenald Kasali menilai wajar jika peringkat 40 orang terkaya di Indonesia didominasi pengusaha di bidang properti, barang konsumsi, serta industri berbasis sumber daya alam karena ketiga bisnis itu merupakan ciri perekonomian Indonesia yang mengandalkan kekuatan daya beli rakyat.

“Lihat saja penjualan rokok Sampoerna atau Gudang Garam yang penjualannya berbasis ekonomi kerakyatan karena dikonsumsi oleh banyak orang. Industri sejenis ini lebih mampu bertahan karena melibatkan kekuatan daya beli rakyat,” kata dia. Roy Sembel menambahkan, mayoritas orang terkaya di Indonesia berasal dari lini usaha konsumsi, karena pangsa pasarnya amat besar. Selain itu, sektor perkebunan juga memainkan peranan penting dalam menciptakan orang-orang kaya di negeri ini sumber daya yang luar biasa.

Menurut Goei dan Roy Sembel, tak ada lagi taipan di sektor keuangan yang masuk daftar orang terkaya, karena saham bank-bank dalam negeri sudah jatuh ke pihak asing. Dia melihat, mencuatnya sejumlah nama pengusaha properti dalam daftar ‘top 40’ hanya bersifat temporer karena industri ini terkait dengan suku bunga. “Saat ini memang properti sedang booming sehingga banyak lahir taipan kakap di bisnis ini. Namun kejayaan itu tidak panjang karena ada keterkaitan erat antara penjualan properti dan bunga bank,” kata dia.

Dalam pandangan Rhenald Kasali, sebenarnya banyak pengusaha besar nasional yang kuat di industri, terutama yang bergerak di sektor consumer good dan makanan. Namun karena umumnya berbisnis keluarga yang saling kait-mengait, mereka kebanyakan tidak mau tampil ke publik, dan tidak mengeluarkan angka-angka bisnis mereka. “Misalnya di farmasi ada juga pelaku yang dominan, yang bisnisnya sampai Rp 8 triliun. Namun mereka tidak mau membuka diri ke publik, karena nanti ‘urusannya’ banyak,” ujar Rhenald.

Goei minta agar daftar orang kaya ini jangan dikontraskan dengan 39 juta penduduk miskin di Indonesia. “Lahirnya banyak taipan justru membuka peluang kerja yang lebih besar lagi bagi penduduk Indonesia,” kata dia. Dia memberi contoh, pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara Eropa lamban karena senantiasa mengaitkan masalah kemajuan pengusaha dengan penduduk miskin. (nov/est/tp/hg)

Mereka yang Terkaya

1. Orang terkaya Indonesia saat ini, Sukanto Tanoto (56), mengawali bisnisnya sebagai pemasok peralatan dan barang perusahaan minyak milik negara. Pada 1973 dia terjun ke bisnis bubur kertas dan kertas. Pada 1995, ia mengambil alih Asia Pacific Resources International, perusahaan produk kehutanan yang tercatat di Bursa Efek New York. Saat ini, perusahaannya RGM International terkonsentrasi pada bisnis kertas dan bubur kertas, perkebunan, dan energi.

2. Putera Sampoerna (58) yang memiliki kekayaan US$ 2,1 miliar sempat menjadi pengusaha rokok kretek nomor tiga terbesar di Indonesia, sebelum Philip Morris membeli mayoritas saham HM Sampoerna Tbk pada 2005. Saat ini, alumnus Universitas Houston itu mulai menekuni bisnis perjudian dengan membeli kasino Les Ambassadeurs di London, Inggris, Maret 2006. Ia juga mendonasi kekayaannya untuk bidang pendidikan.

3. Eka Tjipta Widjaja (83) merantau dari Cina ke Indonesia sejak masa kanak-kanak. Dia pendiri perusahaan Asia Pulp & Paper. Anak-anak dan anggota keluarganya saat ini mengelola perusahaan Sinar Mas dan perusahaan publik Asia Food & Property.

4. Rachman Halim (59) adalah pemilik Gudang Garam, perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia. Dia menguasai mayoritas saham pada perusahaan yang memiliki aset US$ 2 miliar.

5. Budi Hartono (65), pemilik perusahaan rokok kretek Djarum, saat ini menguasai 70% pasar rokok kretek di AS. Budi juga memiliki saham di Bank Central Asia.

6. Aburizal Bakrie (59), menko Kesra, memegang kendali usaha Bakrie Group, perusahaan perdagangan yang didirikan almarhum ayahnya pada 1942. Saat ini, mengelola bisnis infrastruktur, telekomunikasi, tambang batu bara, dan media.

7. Eddy William Katuari (55) adalah anak dari Johannes Ferdinand Katuari, salah satu pendiri perusahaan deterjen Wings Group pada 1984. Ia juga berinvestasi di sektor real estate dan pabrik kimia.

8. Trihatma Haliman (54)mengambil alih Agung Podomoro pada 1986 dengan menjajaki bisnis properti dan tampil sebagai salah satu pengembang terbesar di Indonesia. Membangun ribuan apartemen dan saat ini terlibat dalam 15 proyek di Jakarta.

9. Arifin Panigoro (61), pendiri perusahaan minyak Medco Energi Internasional pada 1980, yang kemudian go public pada 1994.

10. Liem Sioe Liong (91) adalah nama yang kerap mendominasi daftar orang terkaya. Bersama anaknya, Anthoni dan Andree, menjadikan Salim Group mengelola kerajaan bisnis makanan, perkapalan, dan semen. Ia pendiri Bank Central Asia dan First Pacific.

11. Mochtar Riady (76) adalah pendiri Lippo yang dikenal sebagai bankir bertangan dingin. Ia membeli saham sebuah bank yang sekarat untuk melayani para imigran asal Fujian dan menanamkan modal sebesar US$ 2 miliar di sektor finansial, properti, dan ritel. Mengantongi lisensi penerbitan majalah Forbes edisi Bahasa Indonesia. Gemar membaca berbagai hal mengenai nanotech.

12. Peter Sondakh (54) menguasai kepemilikan terbesar Rajawali Group. Didirikan pada 1984, saat ini mempekerjakan 20.000 karyawan dan melebarkan sayap ke bisnis telekomunikasi, barang konsumsi, dan transportasi. Memiliki jaringan hotel papan atas di Indonesia di bawah bendera Sheraton dan Novotel, dan 50% dari 4 pusat perbelanjaan.

13. Prajogo Pangestu (55) sebelum krisis dijuluki sebagai baron kayu. Mengawali bisnisnya pada akhir dasawarsa 1970-an di kelompok usaha perkayuan Djajanti dan mendirikan perusahaan publik Barito Pacific Timber.

14. Martua Sitorus (46) adalah raja kelapa sawit. Pada 1991, bersama keponakannya seorang tycoon asal Malaysia Robert Kuok ikut mendirikan perusahaan Wilmar International, salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Asia yang menguasai perkebunan, penyulingan minyak sawit, dan perdagangan.

15. Paulus Tumewu (54) adalah pendiri dan pemimpin perusahaan publik Ramayana. Belakangan ada rumors bahwa ia berniat untuk menjual kepemilikan sahamnya kepada investor asing. Mengawali bisnis penjualan pakaian jadi pada 1978, dan kini bisnis melebar ke penjualan makanan hingga mainan.

16. Murdaya Poo (65 ) dan Siti Hartati Cakra (60) adalah pasangan suami istri pendiri Berca Group pada 1990. Saat ini menjadi konglomerat bisnis perkayuan dan memproduksi sepatu merek Nike.

17. Husein Djojonegoro (57) mengelola perusahaan barang konsumsi ABC dan sekarang memproduksi 100 jenis barang.

18.Chairul Tanjung (44) adalah pendiri Para Group, perusahan holding di bidang jasa finansial, penyiaran, properti, dan energi.

19. Hadi Surya (70) memimpin perusahaan Berlian Laju Tanker, perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia yang memiliki 50 kapal.

20. Tan Kian (48) menjadi salah satu saja properti. Menguasai perusahaan Dua Mutiara, serta salah satu pemilik Hotel Marriott dan hotel Ritz Carlton di Jakarta.

24. Kartini Muljadi dan Dian Paramita Tamzil mengambil alih perusahaan obat Tempo Scan Pacific pada 1982. Pada 1994 perusahaan itu menawarkan sahamnya kepada publik.

25. Harjo Sutanto bersama Johannes Katuari mendirikan perusahaan Wings Group. Diperkirakan, keluarga itu memiliki 25% saham pada kelompok usaha barang konsumsi dan jaringan distribusinya.

26. Soegiharto Sosrodjojo (72) bersama tiga saudaranya mengelola perusahaan Sosro Group, produsen Teh Botol Sosro, minuman ringan dalam kemasan yang secara langsung bersaing dengan produk Coke.

27. Tan Siong Kie (90) mendirikan perusahaan Rodamas Group pada 1960 untuk mendistribusikan komponen elektronik, alat pendingin dan bahan kimia kalangan industri. Saat ini perusahaannya bergerak di sektor perbankan, makanan, dan penyedap masakan. Tinggal di Singapura.

28. Aksa Mahmud (61) 30 tahun lalu menjadi dealer Mitsubishi di Sulawesi Selatan. Saat ini mengelola Bosowa Investama yang bergerak di bidang energi dan infrastruktur. Ia adalah saudara ipar Wapres Jusuf Kalla.

29. Soetjipto Nagaria (66) berawal sebagai pialang properti. Pada 1975 dia mendirikan perusahaan pengembang Summarecon Agung.

30. Ciputra merupakan pionir usaha real estate terkemuka. Saat ini dia membangun real estate di Jakarta, Surabaya, dan Hanoi (Vietnam).

31. Kris Wiluan menyuplai pipa untuk pembangunan di Singapura dan kawasan sekitar Pulau Batam pada dasawarsa 1970-an. Mendirikan area pabrik di Pulau Batam pada 1979, semakin berkembang usahanya ketika daerah itu dijadikan sebagai pusat industri. Saat ini dia menggeluti bisnis turisme, transportasi dan properti.

32. Djuhar Sutanto adalah mitra bisnis rahasia Liem Sioe Liong di Salim Group. Bersama putranya, Tedy, ia memimpin perusahaan First Pacific.

33. Husein Sutjiadi (52) mengawali bisnisnya sebagai pedagang coklat. Ia membeli 26% saham Davomas pada 1990.

34. Boenjamin Setiawan (73) adalah pendiri Kalbe Farma pada 1966. Desember 2005, Kalbe merger dengan Enseval dan Dankos.

35. Tommy Winata (48) adalah pemilik Bank Arta Graha serta perusahaan properti Agung Sedayu.

36. Jusuf Kalla sebelum menjadi birokrat adalah pemilik grup usaha Haji Kalla, perusahaan perdagangan, properti, dan telekomunikasi.

37. Soedarpo Sastrotomo (86) mengawali bisnisnya sebagai agen perkapalan kini menjadi pemilik PT Samudera Indonesia.

38. Alim Markus (55) mendirikan Maspion Group pada 1962 untuk membuat alat rumah tangga. Kini mempekerjakan 30 ribu orang.

39. Jakob Oetama (75) adalah pendiri harian Kompas, juga memiliki jaringan hotel dan toko buku.

40. Tjandra Kusuma adalah pendiri Mulia Group, yang bergerak di usaha properti dan industri keramik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s